Herry Dim :
Semua Mimpi untuk Senirupa Indonesia dan Bangsa Indonesia

Herry Dim adalah seniman Indonesia yang telah menembus karyanya di Gedung PBB Jenewa, Salah satu lukisan Herry Dim yang berjudul "My White Flag in the Blues" telah dipilih oleh Direktur Budaya, Mr. Pierre Le Loarer, untuk dipajang di United Nations Office in Geneva(UNOG). Nama besarnya telah di catat di dunia. Ia pun telah mendapat respon besar dari MoMA (Museum of Modern Art-NewYork) USA, jika undangannya cepat dari jadwal yang ditentukan MoMA, maka selain senimana satu-satunya yang berpameran Tunggal di Gedung PBB, maka Herry Dim Pun akan mencatat sebagai seniman Indonesia Pertama yang berpameran di MoMA. VisitJakartaCity.com berhasil melakukan wawancara khusus dengan Seniman yang kini sedang menyiapkan pertunjukan keliling dalam bentuk kolaborasi teater - tari “Tarian Terakir” yang akan dipentaskan pada 26 Juni di Bentara Budaya Jakarta. Berikut petikan wawancaranya Aendra Medita dengan Herry Dim.

Sebagai seniman yang berkarya juga mantap yg di interpretasikan dalam wujud rupa. Kini Teater, dan tarian Bagaimana pilihan ini bisa dibagi waktunya dalam proses kesenimannya?

Bagi saya relatif biasa-biasa saja karena memang semuanya saya jalani sebagaimana saya menjalani kehidupan. Terjadi dengan begitu saja sebab di tempat-tempat itulah saya hidup. Ketika ini semua dijalani apa adanya, malah satu sama lain menjadi saling mengisi, saling membuahi, saling mendorong bagi lahirnya karya-karya. Ide senirupa, misalnya, menjadi bisa muncul dari teater dan tari; dan/atau sebaliknya.

Apa saja prosesnya awal, misalnya dengan membaca karya atau bersentuhan langsung secara konsep saat berkarya?

Proses awalnya adalah kehidupan, menghirup hawa kehidupan sedalam-dalamnya. Sambil melihat dan menyelami kehidupan, dengan sendirinya akan tiba pada proses tafakur. Di dalam proses perenungan (tafakur) bisa dibantu dengan baca sejumlah buku, menghadiri diskusi, atau sekadar ngobrol dengan kawan-kawan. Dari kegiatan itu, biasanya munculah dorongan semangat untuk kerja. Saat itu pula biasanya langsung terlihat atau terasa bahwa ada imaji yang hanya bisa diungkapkan lewat lukisan atau hanya lewat teater, tapi adakalanya terjadi juga bahwa dua-duanya muncul sama kuat sehingga lahirlah semacam 'teater rupa.'

Berapa lama karya ini dibuat untuk rupa khususnya?

Jika yang dimaksud rupa itu adalah lukisan, maka pengerjaannya relatif tidaklah lama. Satu bulan, misalnya, saya bisa menyelesaikan antara dua atau tiga karya dengan ukuran lumayan besar. Tapi karena biasanya saya bekerja per serial dengan jumlah sekira 20 hingga 30 lukisan, maka biasanya saya 'menutup diri' tidak mengerjakan apapun selain melukis selama sekira dua tahunan. Yang lama, justru bukan pada saat pengerjaan karyanya melainkan pada masa pencarian dan pembuahannya. Ini bisa melalui 'pengelanaan' yang panjang hingga kemudian muncul gagasan awalnya. Teater, sastra, dunia tari hingga jalan-jalan ke berbagai kota dan bahkan mengajar seni kepada anak-anak serta kantung-kantung seni, adalah tempat-tempat saya berkelana tersebut. Dalam menjalani pengelanaan atau bisa juga sesudahnya, biasanya melahirkan gagasan awal tadi.

Adakah kendala proses kreatif atau lancer-lancar saja?

Sampai sejauh ini, alhamdulillah, dalam hal proses lahirnya ide-ide kreatif bisa saya katakan lancar-lancar saja. Kecuali dalam pengerjaannya atau saat merealisasikannya memang acapkali bertemu dengan sejumlah masalah yang pelik. Saat ini, misalnya, saya punya kehendak mewujudkan ide membuat gabungan seni musik, teater, drama, gambar (motekar), tari, dan bahkan akrobat dan pantomim dalam satu ramuan untuk tontonan anak. Pendeknya dengan ambisi agar negeri ini pun memiliki kesenian teater musikal anak-anak yang tidak kalah oleh bangsa lain, bahkan yakin sepenuhnya bahwa kita sesungguhnya bisa lebih unggul. Ide untuk tontonan anak-anak itu sudah matang bahkan naskahnya sudah rampung ditulis. Demikian halnya gambar motekar yang seperti wayang kulit layar lebar tapi bisa tampil fullcolor, itu proses eksperimentasinya telah dijalani selama tak kurang dari delapan tahun. Tapi, bagaimanapun, itu merupakan pekerjaan besar, melibatkan sejumlah anak serta para ahli di bidangnya masing-masing yang juga jumlahnya tidak kecil. Bisa dibayangkan pula kemungkinan kebutuhan biayanya pun tak mungkin kecil-kecilan. Apalagi ada keinginan atau ide puncaknya supaya tontonan ini bisa permanen semisal tontonan tetap di Sidney Opera atau Broadway, sehingga selain bagi anak-anak kita sendiri maka pada gilirannya nanti bisa juga menjadi sajian bermutu bagi wisatawan-wisatawan manca-negara yang datang ke Indonesia. Maka, pengorganisasian kerjanya pun menjadi harus serius sekali.

Keseriusan Herry Dim dalam berkarya akhirnya membuahkan hasil dan ia mampu berpameran di PBB, dan ini menjadi seniman satu-satunya Indonesia yang berpameran di Gedung PBB Jenewa. Salah satu lukisan Herry Dim yang berjudul "My White Flag in the Blues" telah dipilih oleh Direktur Budaya, Mr. Pierre Le Loarer, untuk dipajang di United Nations Office in Geneva(UNOG).

Bisa sebutkan karya yang paling kuat dari Karya rupa yang di bawak ke PBB atau yang mana lebih baik karya Anda?

Pertanyaan ini akan lebih cocok jika diajukan kepada publik atau kritikus, sebab kalau ditanyakan kepada saya maka pasti akan saya katakan semuanya adalah 'anak' saya ha ha ha...
Sepanjang menunggui pameran di markas besar PBB Jenewa, saya melihat minat orang itu ternyata berbeda-beda, masing-masing punya pilihannya sendiri. Alhasil, semua lukisan saya itu disukai oleh sejumlah orang yang berbeda. Bukankah itu berarti semuanya kuat ha ha ha...
Seperti berita yang dikeluarkan sumber resmi (PTRI, Jenewa, 2 Maret 2009), PBB Jenewa memiliki pertimbangannya sendiri sehingga memilih salah satu karya saya untuk menjadi koleksi barang seni PBB. Berita tersebut cuplikannya sebagai berikut: Untuk pertama kalinya, karya seniman Indonesia memperkaya koleksi benda seni dan menghiasi kantor PBB di Jenewa.
Menteri Luar Negeri RI, Dr. Hassan Wirajuda, di sela-sela kunjungannya ke Jenewa dalam rangka High Level Segment Sidang Dewan HAM sesi ke-sepuluh, menyempatkan diri untuk menyerahkan lukisan, "My White Flag in the Blues" karya Herry Dim, langsung kepada Direktur Jenderal United Nations Office in Geneva (UNOG), Mr. Sergei Ordzhonikidze, pada tanggal 2 Maret 2009.
Penyerahan lukisan ini merupakan tindak lanjut pameran sejumlah lukisan karya Herry Dim, pelukis asal Bandung, yang mengangkat tema "A Child's World of Hope and Peace," dan ditampilkan di tempat yang prestisius di kantor PBB di Jenewa, Salle de pas Perdu, Palais des Nations, pada tanggal 17 - 20 November 2008. Salah satu lukisan Herry Dim yang berjudul "My White Flag in the Blues" telah dipilih oleh Direktur Budaya, Mr. Pierre Le Loarer, untuk dipajang di United Nations Office in Geneva(UNOG).
Mr. Ordzhonikidze menyampaikan kekagumannya atas kekayaan budaya Indonesia maupun berbagai inisiatif dan prakarsa aktif Indonesia yang terus mempromosikan khazanah budaya yang sangat unik dan beragam melalui berbagai kegiatan di pentas gedung PBB. Selanjutnya Dirjen UNOG juga menyampaikan penghargaan atas sumbangan Indonesia yang merupakan komitmen Indonesia yang terus menerus mendukung PBB. Lukisan ini juga merefleksikan harapan bagi anak-anak dunia yang lebih baik di masa depan.
Lukisan dimaksud menggambarkan upaya anak Indonesia dan juga dunia untuk mengejewantahkan arti kata 'perdamaian', 'hidup', dan 'manusia' dalam bentuk pemahaman dan aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Lukisan yang menggambarkan wajah polos anak Indonesia bersebelahan dengan bendera putih dengan latar belakang warna biru, seolah menegaskan PBB sebagai organisasi yang memiliki misi utama memperjuangkan kemanusiaan dan perdamaian. Gaung dan pesan perdamaiankepada dunia ini pula yang menjadi tema utama pameran lukisan yang diselenggarakan bulan November tahun lalu di Gedung PBB Jenewa.

Apakah ini karya pertama yang pernah dibuat masih ingat oleh Anda? Kan sebelumnya saya liat karya Anda banyak ritus-ritus? Anda juga imajikan rupa dalam musik bersama Harry Roesly (alm.) Teater dll? Gimana membacanya dan melakukan konsep estetisnya?

Ini pertanyaan susah yang sering pula saya dapatkan. Disebut susah karena jawabannya mungkin harus dalam bentuk sebuah buku lengkap. Berkenaan dengan itu pula, maka sejak akhir 2008 kami memang sudah mulai ancang-ancang membuat buku yang kemungkinan disusun bersama oleh Agus R. Sarjono, Jamal D Rahman, dan Wicaksono Adi.
Tapi baiklah, ringkasnya, saya bahkan sejak isu pasca-modern belum masuk ke Indonesia; telah lama punya kepercayaan bahwa menjadi seniman itu bukan harus 'tunggal tanda' semisal melukis penari maka sampai mati tetap melukis penari. Pada logika modernisme atau tepatnya lagi industri dan komodifikasi seni, boleh jadi itu dipegang teguh nyaris mirip agama.
Tapi bagi seniman zaman kita sekarang ini hanya menjadi tampak satu sisi saja yaitu penghambaan kepada pasar. Logikanya sederhana, kalau sedang atau untuk laku diusahakan 'tanda' itu tak bergeser sebab pergeseran itu hanya akan membingungkan pasar. Contohnya, sebutlah saya ini pelukis sosok penari, maka meskipun di pinggir rumah saya ada bom meledak hingga memakan banyak korban, maka jangan beranjak dari melukis penari dan anggap saja bom dan kematian yang menyakitkan itu tidak ada.
Masalahnya, ke mana sesungguhnya seniman itu harus mengabdi? Apakah kepada pasar atau kepada 'gejala' atau 'fenomena' hidup yang berlangsung di sekitar dirinya? Saya memilih mengabdi kepada kehidupan dan segenap gejala-gejalanya. Maka, bagi saya, tanda atau penggayaan itu bukan tujuan utama, melainkan hanya sebatas teknis yang perlu dikuasai saja dan itu pun sebatas ketika diperlukan. Sekali lagi, ini masalah sulit untuk bisa diringkas. Maka terpaksa kita ambil contoh sebagai jalan pintasnya. Kita perhatikan tiga karya Marcel Duchamp (1887-1968) yaitu: (1) lukisan "Nude Descending a Staircase No. 2" yang penggayaannya di antara impresionistik dan kubistik (1912an); (2) lukisan "L.H.O.O.Q" (1920an) berupa parodi atas lukisan Mona Lisa dan menjadi tanda gerakan Dadaisme; dan (3) karya 'ready-made' berupa sebuah 'uriner' (1962an) yang menjadi bagian dari gerakan Neo-Dada. Ketiga karya dari orang yang sama, itu sama sekali satu sama lain tak saling berhubungan dalam hal teknik atau pun penggayaannya. Satu-satunya yang menghubungkan adalah bio-kreatif senimannya yang bernama Duchamp. Seperti halnya Picasso, Duchamp adalah salah satu dari sedikit seniman yang tidak mau memenjarakan diri di dalam satu 'tanda' dan/atau satu penggayaan. Ia lebih memilih setia kepada kehidupan, tak menghianati gairah kreatif melainkan menjalaninya dengan sepenuh kemerdekaannya. Lalu-lintas saya berkarya, baik dalam wujud lukisan, membuat karya ruang yang kemudian disebut seni instalasi, bergabung dengan karya musik Harry Roesli, mengawinkan rupa dengan tari atau teater, bahkan dari ritus hingga ke yang serba elektronik, dan sebagainya, itu tak lain dari totalitas kesaksian hidup saya sendiri dan saya pun tak mau menghianati hidup saya sendiri.

Adakah karya seniman lain yang memberikan inpirasi anda? Bagaimana prosesnya dengan setiap sentuhan dengan seniman jika kolaborasi ?

Dua nama seniman yang saya sebutkan di atas yaitu Picasso dan Duchamp adalah yang paling saya kagumi, tapi di samping itu saya kagum pula semisal kepada penari Ibu Dewi, Mimi Rasinah, dan istri saya sendiri. Dalam hal kerja kolaborasi, umumnya saya bekerja bersama seniman yang sudah saya kenali betul luar-dalamnya dan demikian sebaliknya. Sepanjang sejarah hidup saya, kerja dengan Harry Roesli itulah yang paling mengasyikan. Saking sudah begitu saling-mengenal maka kami melahirkan konsep 'proses untuk menjadi,' yaitu kegiatan-kegiatan yang dimulai tanpa konsep dan tanpa rencana apapun. Salah satu contohnya adalah karya 'metateater' yang sesungguhnya meleburkan senirupa, teater, musik, tubuh, dan gerak dalam satu ruang peristiwa. Jangan lupa, hal itu terjadi antara tahun 1990-1991.

Kalau boleh tau berapa karya yang sudah dibuat dari awal sampai kini? dan apa saja yang menarik dari perjalanan Anda saat dibuat?

Nah, ini pertanyaan yang jauh lebih sulit lagi. Mungkin karena tempo kerja saya yang (mungkin) termasuk tinggi serta nyaris terus berjalan tanpa henti, maka salah satu cacatnya saya menjadi abai terhadap dokumentasi. Akibatnya, saya jadi tak pernah tahu jumlah karya yang telah saya buat sendiri ha ha ha... Tapi bisa dikira-kira. Misalnya untuk pekerjaan saya sebagai penata artistik untuk pementasan drama 'Woyzeck" bersama Teater Bel, tangan saya tak berhenti membuat sketsa-sketsa, rasanya tak kurang dari 30 sketsa mengalir begitu saja.

Bisa tuliskan sepak terjang apa Anda ke depan bagi perjalanan rupa dan kesenimanan di dunia ini....?

Saya ingin menembus MoMA dan pameran di sana, setelah itu baru ke tempat lain seperti Gugenheim, dll ha ha ha... Rasanya bukan mimpi, sebab sejauh ini pun saya sudah pegang surat pengakuan dari staf kurator MoMA yang diterbitkan 3 Desember 2007. Hanya saja untuk sampai kepada yang diimpikan memang tak mudah, banyak hal yang harus dipersiapkan. Ini, gunanya, bukan semata-mata untuk saya tapi lebih penting lagi untuk senirupa Indonesia, untuk Indonesia. Maka, mohon bantuan spirit dan doa dari saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Flash News
djwirya
blueberd
Figure
 
copyright©2007.visitjakartacity.com